BUKIT B29 Bromo

Sharing is caring! Thanks my friends

Rekan Void Chapter Jawa Timur  Didik Setiabudi ditemani dua orang temannya melakukan perjalanan mengitari gunung bromo. Start dari surabaya pada pagi hari  tanggal 6 Agustus 2017 dan segera menuju ke Malang, kemudian Lumajang dan ke B29 di Bromo. Suatu perjalanan yang menakjubkan, ini ceritanya :

Tanggal 1 september  2017 jam 08;00 Kami memulai perjalanan dari Surabaya menuju alun-alun Lumajang untuk bertemu voider Bali sdr.Andy Sidharta. jam 11:30 kami mulai bergerak dan sebelumnya isi bahan bakar dulu . Tujuannya tentu adalah menuju puncak B29 dikawasan Gunung Bromo. Perjalanan melewati desa Senduro perjalanan yang indah, jalan meliuk liuk dan mendaki serta hamparan ladang yang tidak berkabut membuat kami bisa menikmati perjalanan yang indah. Setelah sampai desa Arjosari jalanan berubah dari aspal ke paving dan sempit…jalan semakin mendaki. Disini nyali kami mulai diuji, namun memang jalan sudah jauh lebih bagus dibandingkan dengan tahun yang lalu…setelah nyampai puncak B29.ternyata tidak seperti dulu lagi. Pemerintah Daerah sudah melakukan perbaikan tepat ini dan sungguh luar biasa tempatnya mejadi berubah bagus dengan parkir motor yang disediakan. Tempatnya tertata rapi. Kami ngopi2 di warung istirahat dan setelah itu  kami turun ke desa Senduro. Perjalanan kami menurun terus ditambah kabut tebal, dan memaksa kami berhenti dulu untuk makan siang dengan menu pecel campur rawon.

Selanjutnya perjalanan dr Senduro ke Ranupani jalanan mulus banget dan sudah dihotmix. Kami melewati hutan dengan  pepohonan yang lebat membuat kami sangat menikmati perjalanan ini . Udara yang bersih dan sejuk sepanjang 29 km mendekati tujuan jalan mulai sedikit rusak karena pembangunan belum selesai.

Sesampai di Ranupani kami kembali dikejutkan dengan suasana yang berbeda  dan sudah banyak kemajuan dengan banyaknya home stay. Akhirnya kita mendirikan tenda di Ranupani di belakang sebuah cafe dan tempatnya sangat cocok buat mendirikan tenda. Kopi dan cemilan sudah disiapkan dari cafe “pak Burhan”. Malam menjelang dan udara semakin dingin,  kami pun menggunakan sleeping bag masih juga tembus. Entah berapa berapa derajat saya prediksi sekitar 10 derajat.

Akhirnya pagi matahari mulai nampak udara dan perlahan udara dinginpun sirna…kita minum kopi plus pisang goreng…sungguh nikmat poll apalagi music cafe pas banget irama country dan slow rock…

Selanjutnya perjalanan ekstrem kami tempuh.  Jalan di atas desa arah njemplang ternyata putus. Terpaksa kami  harus lewat jalan pintas melalui pinggir ladang. Disini onta kami sempat mengalami rebahan. Jalanan sempit menanjak dan berdebu . Setelah itu baru lancar sampe njemplang arah lautan pasir. Rencana kami mau ngecamp semalam di lautan pasir tetapi kondisi tidak memungkinkan.  Kami akhirnya memutuskan langsung pulang. Ternyata perjalanan dilautan pasir lebih sulit dan parah . . Omya kami ternyata ngambek tidak mau jalan.  Pasir kering membuat motor kami amblas tidak bisa dilewati . Berulang kali onta kami rebahan di pasir Bromo..hehehe…

Setelah lautan pasir barulah kita finish dan berpisah di kota Probolonggo setelah makan rawon legendaris di warung Gunawan.  Itulah sekelumit cerita perjalanan
See next time …See u adventure…

Penulis :  Adventurer Andy Sidharta dan Didik Setiabudi VOID Chapter Jatim

 

 

Please follow and like us:
0