VOID Goes to Himalaya Jalan Tertinggi Didunia

 Indonesia Rider Expedition dimana didalamnya ada 4 anggota VOID ini  melakukan perjalanan menjelajah pegunungan Himalaya dari sisi yang lain yakni dari New Delhi ke Leh  yang terletak di propinsi Ladakh. Jammu Kashmir,  Jarak tempuh kami kali ini 1026 km melewati pegunungan di Himacal Pradesh.

Oke mari kita mulai perjalanan kita ya, walau perjalanan ini hanya 9 hari tetapi perjalanan kami kali ini membawa banyak cerita, baik cerita tentang perjalanannya sendiri, kemudian perbedaan culture yang membuat kami sulit beradaptasi dan berkomunikasi, kemudian tatangan cuaca yang membuat hampir semua peserta tumbang.

Hari Sabtu, tanggal 16 September 2017, peserta Indonesia Rider Expedition yang terdiri dari pelbagai latar belakang dan datang dari pelosok Indonesia berkumpul jam 11 siang untuk melakukan briefing sejenak sebelum melakukan perjalanan ke India. Peserta kali ini benar benar datang dari pelbagai latar belakang, ada peserta dari Banjar Baru, Edy Sudarmadi, ketua IMI Kalsel, , kemudian Offroader Nasional Eko Luriyanto bersama pasangannya Endah Kristianti, Arif Suryono, pembalap Nasional Ronny SS Performance, kemudian ada yang berlatar belakang offroad roda dua Dr Abdul Aziz dan Hery Cahyono, ada yang berlatar belakang pengusaha yang datang dari Tegal, Richard Heriman, Bagus Sadono, Yohandi Hastarika, para professional seperti  Harri Kurniawan dan Praba, Oscar Garendi , datang dari Bengkulu yakni Kurnia Lesandri, Bastrie Kamba juga ada yang datang dari Italy yakni Andrea Giussepe. Ya mereka datang dengan pelbagai latar belakang dengan tujuan satu, menaklukan pegunungan Himalaya. Perjalanan panjang dengan menggunakan pesawat Garuda dimulai dari pukul 14. 00 siang dan tiba di New Dehi pada pukul 23.00 malam, sesampainya nya di Dehli kami harus menunggu bis yang akan menjemput kami dan mengantarkan kami ke Manali. Kami tunggu dan ternyata bis tiba pada pukul 02.00 dini hari tanggal 17 September 2017.

Beberapa rekan kami mencoba membeli sim card lokal,  dan ternyata di India aktivasi simcard membutuhkan waktu 1 hari dan tidak bisa langsung aktifasi, Apesnya lagi Daniel Irwansyah, passportnya tertinggal di counter simcard  Airtel.  Terpaksa kami akan mengurus passport tersebut sepulang kami dari Himalaya. Setelah kami sampai di area luar kota kami menjemput Andrea Milano dan Uchi yang lebih dahulu tiba di New Dehli dari Bangkok. Setelah lengkap perjalanan panjang New Dehli – Manali pun dimulai. Team Himalaya Rides operator lokal kami juga ikut bergabung. Hilamaya Rides adalah organisasi lokal yang membantu perjalanan kami.  Perjalanan yang sangat pajang dan berliku dimana kami harus menempuhnya selama 18 jam lebih dengan jarak tempuh 562 km membuat kami cukup merasa lelah.  Bayangkan turun dari pesawat, kami harus menikmati perjalanan ke Manali dengan Bis.  Team Himalaya Rides bilang hanya 12 jam tetapi kenyataannya 18 jam lebih dan kami tiba di Manali pada pukul 20.00. Sesampainya disana kami langsung pembagian kamar di oyo hotel dan istirahat. Setibanya disana maka jajaran motor yang akan kami pergunakan sudah disiapkan.  Manali adalah kota yang terletak di ketinggian 2050 M dan terletak di propinsi Himachal Pradesh.

Touring kali ini agak repot karena ada konflik kepentingan antara operator motorbiking organization di Himachal Pradesh dan Ladakh. Motor yang kami sewa tidak boleh masuk ke Ladah demikian pula motor yang dari ladakh tidak boleh masuk ke Manali. Akibatnya kita harus berganti motor di perbatasan.

Pagi hari Senen,  18 September 2017 Setelah sarapan, kami melakukan briefing, dan kami mengunjungi Hadimba Temple yang terletak dekat hotel kami. Setelah berdoa, perjalananpun di mulai.  Tujuan kami adalah Jispa. Awalnya jalanan aspal tetapi baru 15 km kami disuguhi oleh jalanan gravel, kami dari ketinggian 2000 M mulai mendaki keketinggian 3. 978 M dan melalui Rohtang pass. Rohtang Pass adalah dataran tinggi yang melewati pegunungan  sebelah timur Rentang Himalaya atau sekitar 51 km (32 mil) dari Manali. Rohtang Pass menghubungkan Lembah Kullu dengan Lahaul dan Spiti,  Lembah yang terletak di propinsi  Himachal Pradesh , India .

Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh harus kami tempuh lebih dari 12  jam. Memaksa kami untuk tiba pada malam hari di penginapan kami di Jispa.  Setelah kami check ini, saya perhatikan Basrie Kamba sudah mulai susah bernapas dan mulai ada yang terkena penyakit AMS (Altitude Mountain Sickness), mengalami peningkatan heart rate, mual mual, muka pucat.  Beruntung dalam team kami ada peserta yang berlatar belakang medic yakni dr Abdul Aziz, dengan sigap dokter aziz mencheck kesehatan Basrie, kita putuskan agar Basrie Kamba kita bawa ke Medical Center yang terletak hanya 500 meter dari hotel kami.  Dokter  yang ada Jispa adalah dokter Tibetian yang memberikan obat obatan herbal.  Hari ini Heri Cahyono sempat tertinggal di belakang karena ban kempes. Kemudian Yohandi juga sempat terjatuh disini mengkibatkan kerusakan pada footpeg dan spion.

Selasa, Sebagian team sudah berjalan pada pagi hari sedangkan saya dan Dr Aziz belakangan karena harus membawa Basrie berobat, kali ini perjalanan cukup sulit dan hampir sebagian besar jalanan adalah jalan berpasir dan cukup sulit,  kalau kemaren kami hanya pada ketinggian 4 ribu meter maka kali ini kami akan mencapai ketinggian mencapai 5300 M atau ketinggian kedua setelah Khardung La. Jalan curam dengan jurang yang bukan main dalam sangat membahayakan para rider.  Saya sampai di base camp Militer Pang siang hari, namun team tercecer dan tidak jelas. Saya hanya bersama Dr Aziz saja sementara yang lain tidak terlihat. Jam 16.00 dapat kabar Harri Kurniawan mengalami kecelakaan di jalanan gravel di Keylong – Pang. Sekitar Bara-lacha Pass 5000 M MDPL Harri Kurniawan jatuh di medan pasir dan mengakibatkan tulang belikat dada mengalami patah. Setelah patah Harri masih tetap mengendara hingga Medical Army Base Camp, luar biasa. Sesampainya di Base Camp maka yang bersangkutan langsung diberikan tindakan oleh dokter namun setelah pemeriksaan oleh dokter yang bersangkutan dilarang untuk mengendarai motor lagi, berbahaya.  Agak malam dapat kabar lagi bahwa “Kaka” mechanic kami juga mengalami kecelakaan. Kaka mengendarai kendaraan yang dikemudikan oleh Kurnia Lesandri yang juga mulai terserang AMS.  Rupaya setelah lepas dari bara lacha pass yang jalanannya gravel maka yang bersangkutan gas sekencang kencangnya karena hari sudah mulai gelap.  Ada tikungan dan lobang cukup dalam membuat motor “Kaka” harus terbang sejauh 100 meter dan “Kaka’ menderita patah tulang paha sebelah kiri dan muka hancur.  Korban segera di larikan ke Medical Army Base Camp Pang, untuk tindakan penanganan pertama membersihkan luka dan darah di muka dan mengikat kaki yang patah. Malam itu juga yang bersangkutan dibawa ke Leh untuk diambil tindakan. Tak kurang 5 orang terkena mountain sickness di Pang,  dan harus di rawat sejenak diberikan oksigen dan disuntik.  Saya dan dokter Aziz bertiga dengan Aswin melajutkan perjalanan ke Tsokar, perjalanan malam hari dengan cuaca sangat dingin membuat hati berkecamuk tidak karuan, Perasaan kecewa dengan organizer lokal ditambah berpencarnya rekan rekan membuat hati sangat gundah. Saya kehabisan bahan bakar di tengah padang pasir dan gelap gulita, terpaksa motor saya tinggal dan saya bergoncengan dengan Dr Aziz. Kami tiba jam 21.00 malam di Lotus Camp.  Benar saja sesampaikannya di Lotus Camp  hanya 9 orang mencapainya dengan GPS Offline sedangkan Heri Cahyono tidak terlihat karena GPSnya terjatuh. 5 orang langsung dilarikan ke Leh karena mempunyai masalah dengan AMS dan 2 orang mengalami kecelakaan.   Lotus Camp ini terletak 17 KM di gurun pasir Tsokar dan dikelilingi oleh pegunungan bersalju dan merupakan base camp tentara militer. Tidak ada kehidupan disitu, tidak ada air, tidak ada  listrik. Air membeku, bener bener tantangan yang sangat luar biasa. Nafas tersengal sengal dan setiap 1 jam kami terbangun karena kesulitan pernapasan. Back up car juga tidak ada karena harus membawa korban ke Leh, Kita benar benar di uji secara mental. Kami tidur dengan riding gear ditambah selimut 2 rangkap, tidur dalam kegelapan dan tanpa ada pemanas.  Teman teman mulai meracau, Bagus Sadono bahkan mulai keluar darah dari hidung, muntah muntah dan mengalami pusing luar biasa. Saya hanya bisa berdoa agar mereka di berikan kekuatan karena saya juga mengalami kepayahan. Dr Abdul Aziz berjuang keras membantu teman teman dengan memberikan obat Anti ketinggian dan suntikan bagi rekan yang sudah kepayahan, Tsokar berada diketinggian 4500 dan berada di lembah ketinggian kedua tertinggi di dunia. Disini teman teman tidak saja terkena AMS tetapi juga terkena High-altitude pulmonary edema. Penyakit yang diakibatkan karena kekurangan oksigen di paru paru. Suatu keadaan dimana kita berada di titik nadir. Disini kami merasakan bagaimana arti kehidupan. Genderang kematian terasa disini, kami mulai berasa halusinasi dan kepayahan.  Pagi hari rekan rekan bangun dengan kondisi yang tidak bugar, kamipun terlambat keluar dari Tsokar karena pasokan bahan bakar belum ada. Hal ini sangat saya sesalkan dari operator lokal yang kurang kooperatif dan bekerja sangat lambat. Perasaan kecewa dan marah bercampur aduk, tetapi tentunya saya tidak bisa tunjukan dihadapan teman teman karena hal ini bisa menurunkan semangat mereka yang sudah berada dititik paling rendah.  Saya instruksikan dengan keras agar team lokal mengisi bahan bakar supaya kami segera bisa keluar dari Tsokar. Sambil sarapan mereka isi bensin, dan setelah sarapan kami mempersiapkan diri dan segera kami berangkat menuju Leh. Kali ini kami akan melintas jalan kedua tertinggi didunia dengan ketinggian 5,328 M atau 17,480 feet. Jam 08.00 kami bergerak meninggalkan tsokar dan jalanan kali ini sangat mulus membuat kami bisa mengembangkan kecepatan sampai 100 kpj lebih.  Kira kira 1 jam kami bergerak kami melihat motor RE di kiri jalan ternyata Heri Cahyono berada disitu.  Kami nyamperin beliau dan beliau berkisah bagaimana dia sendirian di kegelapan dan di kedinginan -4 derajat C membuat dia kehilangan orientasi, dia ditolong penduduk lokal karena sudah sempat tidak sadarkan diri dan terjatuh dari motornya karena sudah tidak kuat. Beruntung Heri Cahyono bisa recovery esoknya dan bisa bergabung lagi dengan kami.

Siang hari kami sudah tiba di Leh, ini berkat jalanan yang mulus. Kami akhirnya menemukan kehdupan setelah 3 hari kami tidak mendapatkan signal dan tidak ada wifi.  Kami mengumpulkan tenaga untuk perjalalanan kami hari terakhir riding.  Kami menanyakan kepada peserta siapa saja yang akan ikut ke Khardung La ? Ternyata semua 20 orang menyatakan ikut serta namun 9 orang yang sudah tidak sanggup naik motor menyewa kendaraan mobil sedangkan 11 orang tetap mengendarai motor.  Operator lokal meminta kami menandatangani pernyataan tidak menuntut bila terjadi apa apa dengan peserta yang ke Khardung La karena khawatir dengan kondisi badan. Khardung La hanya 40 Km namun perjalanan extreme dari ketinggian 4000 langsung ke 5600 M dalam waktu hanya 1 jam. Ini yang di kuatirkan mereka,  akhirnya kita persiapan oksigen sebanyak banyak nya dan obat obatan untuk menangani ketinggian.  Esok harinya Kamis 24 September 2017 kami start jam 08.00 pagi setelah sarapan dan setelah isi bensin dulu langsung kami menuju ke Khardung La. Melewati pos penjagaan di ketinggian 4000 kami langsung menanjak keatas, Ternyata jalan ke Khardung La sangat mudah dan tidak ada tantangannya sama sekali, bahkan jalanan mulus ke Khardung La dimanfaatkan teman teman untuk menjajal kemampuan RE. Saat nanjak maksimum speed 60 km perjam tapi pada saat turun kecepatan RE mencapai 140 Kpj, terjadi salib saliban antara Andrea Guiseppe, Edi Sudarmadi dan Kurnia Lesandi Adnan, layaknya moto GP mereka seperti menemukan mainannya. Bahkan di tikungan saya mendengarkan decitan ban yang terparut dengan aspal. Andrea memainkan gigi tinggi ke rendah di kecepatan tinggi decitan ban terdengar, Wah saya hanya bisa mengamati dari jauh saja sambil mengikuti mereka. Kami hanya berfoto selama 30 menit di Khardung La karena tipisnya udara. Tidak seperti di Tso Kar disini tidak ada satupun yang merasa mengalami sakit dan tidak ada satupun yang merasa kesulitaan pernapasan, bahkan mas Bambang Sukarsono yang berumur 69 tahun saja terasa sehat. ini mungkin karena kami sudah mempersiapkan mental dan fisik dengan baik.  Luar biasa.

Jam 15.00 kami sudah sampai di Hotel Asia dimana kami menginap, sore itu acara bebas dan malam hari kami mengadakan acara penyerahan penghargaan kepada seluruh peserta, disamping itu kami mendengarkan kesan dan pesan dari seluruh peserta. Ya secara keseluruhan mereka senang dengan tantangan yang disuguhkan dan hal itu menjadi pengalaman berharga bagi perjalanan hidup mereka. Adventure not about destination but its about journey.  Kerjasama, bahu membahu saling memberikan spirit membuat kami seperti Saudara baru.  Hal ini sangat berkesan sekali bagi mereka. Acara ditutup dengan merayakan hari ulang tahun rekan kita M Arif Suryono (Jirip) dan Ronny SS.  Esoknya kami kembali ke New Delhi dan menghabiskan waktu ke Taj Mahal yang memerlukan waktu tempuh 10 jam PP.

Perjalanan ini memberikan pelajaran banyak tentang kehidupan, arti persahabatan dan kerja keras. Walau dengan tantangan yang luar biasa tetapi teman teman tidak merasakan kapok dengan acara yang dibuat. Perjalanan IRE kali ini banyak kekurangannya karena operator lokal yang selalu lambat dan apa yang ditawarkan tidak sesuai dengan harapan. Namun kesan akan perjalanan, tentang perjuangan hidup selalu akan terkenang selamanya. Selamat tinggal Himalaya, sampai ketemu rekan rekan IRE sampai ketemu pada perjalanan berikutnya ke Eropa Timur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About admin 66 Articles
Saya suka motor dan mobil udah gitu aja